SEDIKIT TENTANG PRINSIP PENGELOLAAN AIR TERPRODUKSI DALAM INDUSTRI HULU MIGAS

Posted: 30 Mei 2011 in Tak Berkategori

Produced water merupakan salah satu limbah terbesar yg dihasilkan oleh sektor hulu migas. Terlebih untuk lapangan marjinal, water cut produksinya saja bisa mencapai 90% (bahkan bisa lebih). Hal tersebut menjadi concern utama untuk pengelolaannya sering bermasalah karena jumlahnya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Opsi pengelolaan produced water ada 2 macam. Kita bisa treatment untuk di buang ke badan air atau di-re-injeksi. Re-injeksi terbagi menjadi dua, yakni untuk enhance oil recovery /EOR (pressure maintenance, water flooding dll) atau berupa sumur disposal. Semua opsi mewajibkan pre-treatment dulu untuk memenuhi baku mutu, kecuali sumur disposal. Semua opsi perlu perijinan dan pemantauan rutin minimal per bulan dari instansi lingkungan, kecuali untuk re-injeksi sebagai EOR. Ref Permen LH 04 thn 2007 dan Permen LH 13 th 2007.

Saat ini re-injeksi merupakan opsi yg paling banyak dipilih karena praktis, tidak ribet bermaslah secara sosial lingkungan terutama juga mempertimbangkan aspek teknis, ekonomi teknologi. Sebagai contoh, beberapa lapangan akan sangat sulit memenuhi kriteria baku mutu TDS < 4.000 dengan teknologi konvensional.

Selain itu ada keuntungan yang didapatkan dari injeksi air terproduksi kedalam formasi yaitu untuk mendorong kandungan crude oil dari dalam formasi kesumur-sumur produksi dan menjaga tekanan fluida didalamnya, namun ada criteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi terlebih dahulu.

Air untuk injeksi proses EOR memang perlu memenuhi kriteria tertentu. Jika tidak, alih-alih mendorong produksi crude oil malah membuat plug formasi. Fasprod pipa, pompa dan lain-lain juga cepat plugging, korosif & rusak. Parameter yang biasa dijadikan indikator diantaranya pH, DO, TSS, MPFT, SRB (Sulfur Reduction Bacteria), oil content, RPI, Fe dan turbidity.

Untuk kualitas air injeksi ke dalam formasi, ada fenomena swelling atau deflocculating clay mineral dari batuan formasi. Clay merespon terhadap kekurangan kation divalent yang terkandung di dalam air injeksi. Ada beberapa tipe clay yang mempunyai korelasi langsung dengan kation divalent ini, yaitu montmorilonite, illite, koalinite, dan mixed layer mont-illite.

Untuk kegiatan water injection, sebagai salah satu strategi EOR, juga digunakan untuk menjaga tekanan dalam formasi, juga bisa digunakan untuk mensiasati limbah produced water yang dihasilkan dari produksi oil/gas.

Namun injeksi produced water ini kedalam formasi, juga harus memenuhi criteria-kriteria yang pada intinya jangan sampai merusak formasi dan fasilitas produksi. Agar tidak merusak formasi, karakteristik air yang di injeksi diusahakan sesuai dengan karakteristik air yang ada di formasi. Air injeksi dan air formasi yang mempunyai komposisi kimia dan konsentrasi sangat berbeda akan mempunyai potensi besar untuk terjadinya kerusakan formasi terutama di zona injeksi. Selain itu, reaksi antara kandungan kimia kedua fluida tersebut dapat menyebabkan terjadi presipitasi endapan scale.

Scale dapat menyebabpan terjadinya penurunan injektivitas sumur, kerusakan formasi dan kerusakan peralatan. Scale yang umum terjadi adalah kalsium karbonat, kemudian yang lainnya seperti : feroksida, ferokarbonat, ferosulfida, kalsium sulfat dan barium sulfat. Kadang karena volume dari air yang diproduksi dari formasi tidak mencukupi untuk menggantikan volume yang hilang akibat produksi minyak dan gas, maka air tambahan (make up) dapat digunakan untuk meyakinkan bahwa kekosongan dalam reservoir dapat tergantikan.

Beberapa problem yang terkait kegiatan water injection ini adalah terbentuknya scale pada flowline, korosi pada pipa (biasanya disebabkan karena oksigen terlarut), dan adanya bakteri (acid reducing bacteria) yang menyebabkan korosi atau bakteri penyebab bio-fouling.

Untuk itu sebelum diinjeksikan ke dalam formasi, produced water yang sudah terpisahkan dari oil/gas harus dilakukan treatment terlebih dahulu, biasanya menggunakan cara mekanikal dan chemical.

  1. Pengolahan awal dari air permukaan untuk menghindari terjadinya makro bio-fouling : biasanya menggunakan chlorine. Chlorine adalah pembunuh bakteri yang cepat dan digunakan disemua area produksi minyakbumi untuk pengolahan air baku. Namun kadar chlorine yang terlalu tinggi juga bisa menyebabkan korosi pada pipa.
  2. Filtrasi : suspended solid dalam air injeksi mempunya potensi untuk menyumbat formasi disekitar well bore, sehingga mengakibatkan kerusakan formasi.
  3. Penghilang gas-gas penyebab korosi, biasanya adalah O2 yang ditangkap dengan hydrazine atau sodium bisulfit.
  4. Penambahan bahan kimia (chemical) untuk mempertahankan kualitas air : penambahan chemical pada proses treatment air injeksi ditujukan untuk mempertahankan kualitas air setelah adanya treatment awal.

Bahan kimia yang biasa digunakan seperti :

  • Oxygen Scavenger : yang biasanya digunakan untuk menangkap oksigen terlarut/terbebas, biasanya natrium bisulfit base.
  • Scale Inhibitor : untuk mencegah terjadinya presipitasi padatan terlarut yang menyebabkan scale, biasanya phosponium base.
  • Organic Biocide : untuk membunuh bakteri penyebab bio-fouling atau acid reducing bacteria, biasa digunakan chlorine, THPS base ataupun glutardehyde base.
  • Corrosion Inhibitor : untuk mencegah terjadinya korosi, biasanya type film forming corrosion

Sumber : hasil bacaan dari berbagai sumber, milis migas dan seuprit pengetahuan saya

Mikha Umar

Komentar
  1. piti mengatakan:

    Pak, saya sedang KP disebuah perusahaan hulu migas, sepenjelasan yang dikasih air terproduksi disini hanya dipisahkan diseparator lalu dialirkan melalui sump caisson, apakah treatment itu sudah benar? seharusnya bagaimana cara treatment yg benar? (saya masih sangat awam dan ingin sekali mengetahui lebih banyak ttg air terproduksi)

    • mu171 mengatakan:

      banyak metode sebenarnya, namun yang saya upload disini adalah kegiatan pengelolaan air terproduksi di lapangan yang mengusung EOR dilapangan migasnya.

      jika tidah belum bisa mengaplikasikan hal ini.

  2. cepu mengatakan:

    terima kasih uraiannya, berikan metoda pengolahan air terproduksi dari sumur minyak ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s